Jumat, 19 September 2008

Manifesto satria pedang tumpul

:Bersama Kang Kurniawan

“Bravo…..dua gelas kopi, sebungkus keretek, jangan lupa gorengan ketela, dan mimpikan ladang-ladang didepan mata, seperti tak ada batasa pandangan antara beranda, jalan setapak didepan rumah, serta sawah yang terhampar luas, dibatasi gedung-gedung mall dan plaza, atau limbah pabrik yang setia mengotori kali yang mengaliri sawah-sawah, sementara anak-anak takut sekolah karena dinding-dinding bangunan tak sekedar retak, atau atap yang bocor gentengnya tak sempat diganti, ditambah langit-langit yang tak terpasang, sempurna……. ini bisa kita nikamati sambil minum kopi, dan mengepulkan asap rokok berkali-kali……bravo!!!”

Rabu, 10 September 2008

Manifesatria pedang tumpul

Kembali lagi pada siku garis perpotongan, antara sumbu X dan sumbu Y, pada sebuah bilangan ‘tak terhingga’, ‘nol’ kataku.

Mulailah lagi menemukan jarak, menemukan garis kemiringan pada kedua sisi, jika kemungkinanya dapat ditemukan ruang ‘kosong’ yang tak sempat disinggahi,
“Masih kucari bentuk logis, antara sumbu pertikalisme pada bidang horizontalisme. Ayo bilangan jangan bias, sekali ini saja kusaingi Fir`aun,ha ha ha ha …………”.

Pitagoras mari bermain sekali lagi, he he he he…..kau menghitung aku yang mengambil garis he he he he…………

http://sadoell.lemontreenet.net/

Selasa, 02 September 2008

Manifesto satria pedang tumpul

tak stabil kehilangan konstan pada ruang, dimensi pada keluasan aku tetap melesat-lesat bebas lepas seluas mungkin dan tak menemui tepian.
Tak berlaku istilah hilir hulu, segenap perhatian pada keselamatan diri antara benar salah, atau terpojokan pada kebijakan sendiri.
jika ada suatu medan daya, maka mencipta aksi, aksi pada kehampaan bertanya pada diri, apa tentang daya dankuasa mencipta atmosfer?
Tak ada grafitasi selain kuasa hidup, maka seberapa besar kuasa berpijak?